Halaman

Sabtu, 31 Maret 2012

Eksploitasi Wanita dalam Lapangan Pekerjaan

الظلم هو وضع الشيء في غير موضعه – وأعظمه الشرك بالله لأنه وضع للعبادة في غير موضعها، ومنه ظلم العبد لنفسه بالمعاصي لأنه وضعها في غير موضعها الذي هو طاعة الله، ومنه ظلم العبد للناس في دمائهم وأعراضهم وأموالهم بالاعتداء عليهم في ذلك، ومن ذلك ظلم المرأة في وضعها في غير موضعها اللائق بها، لأن موضعها في المجتمع أن تكون زوجة وأماً وسيدة ومربية أولاد هذا عملها المنتج والمريح والنافع لأسرتها وللمجتمع والحافظ لكرامتها ومكانتها ومتى ما سلب منها هذا العمل ووليت غيره من أعمال الرجال فقد ظلمت لأنها وضعت في غير موضعها. وقد أوجب الله على زوجها الإنفاق عليها لتتفرغ لمهمتها العظيمة فالرجل هو الكاسب خارج البيت له ولها ولأولادهما.
وبهذا تعمر البيوت وتقوم الأسر ويحصل التعاون بين أفرادها بقيام كل منهم بما يختص به، أما إذا جردت المرأة من عملها داخل بيتها ومن تربية أولادها ومن سكن الزوج إليها وسكنها إليه فهذا خلاف الفطرة التي فطر الله الناس عليها ولن تقوم بعمل الرجل فيخسر المجتمع عمل الرجل الذي أسند للمرأة وعمل المرأة الذي سلب منها في آن واحد وولاة أمورنا حفظهم الله يهتمون برعاية مصالح بلدهم وعلماؤنا وعقلاؤنا لن يسمحوا بذلك فليبق كل من الرجل والمرأة على عمله اللائق به والواجب عليه لتقوم بذلك مصالح المجتمع، ولن نلتفت إلى نعيق الذين يريدون تغريب المجتمع دون تفكير ودون نظر إلى مصالحه ودون نظر في العواقب، والعاطلون عن العمل من الرجال كثير

وأرجو الله أن يوفق الجميع لما فيه صلاح الإسلام والمسلمين والعباد والبلاد
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه

كتبه
صالح بن فوزان الفوزان
عضو هيئة كبار العلماء
01/02/1433هـ


Oleh: Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah

Kezhaliman adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Bentuk yang paling besar dari kezhaliman adalah perbuatan syirik kepada Allah, karena hal itu meletakkan ibadah tidak pada tempatnya. Di antaranya juga adalah seseorang menzhalimi dirinya dengan kemaksiatan, karena dia menempatkan dirinya tidak pada tempatnya yaitu pada ketaatan kepada Allah. Di antaranya juga adalah kezhaliman seorang hamba kepada manusia dalam perkara darah, kehormatan, dan harta mereka dengan melanggar hak mereka dalam perkara itu.

Di antaranya juga kezhaliman terhadap wanita (perempuan), dengan menempatkannya tidak pada tempat yang layak dengannya. Karena posisinya dalam masyarakat adalah sebagai seorang istri, ibu, serta pendidik anak-anak. Inilah tugasnya yang menghasilkan, menyenangkan, bermanfaat untuk keluarganya dan masyarakat, serta menjaga keluarganya dan kedudukannya. Kapanpun dirampas darinya perkerjaan ini dan dia diberi pekerjaan lain dari pekerjaan para lelaki, maka wanita itu telah dizhalimi karena dia diposisikan tidak pada tempatnya.

Allah telah mewajibkan atas suaminya untuk memberi nafkah kepada si istri agar sang istri konsentrasi pada tugasnya yang agung, maka suamilah yang berusaha mencari nafkah di luar rumah untuk dirinya, istrinya, dan anak-anaknya. Sehingga dengan demikian rumah-rumah akan menjadi hidup dan juga keluarga akan tegak. Dan akan terjadi saling kerjasama (ta’awun) di antara aggota-anggota keluarga agar masing-masing menunaikan yang menjadi kekhususannya (spesialisasinya). Adapun jika wanita dilepaskan dari perkerjaannya di dalam rumah dan dari tarbiyahnya (pendidikannya) kepada anak-anak, serta dari rasa sakinah (ketenangan) suami istri kepada yang lain, maka ini menyelisihi fitrah yang telah Allah tetapkan manusia padanya.

Wanita itu tidak akan bisa menegakkan pekerjaan lelaki, sehingga masyarakat akan kehilangan pekerjaan lelaki yang disandarkan kepada wanita dan kehilangan pekerjaan wanita yang dicabut darinya dalam satu waktu. Dan ulil amri kita –semoga Allah menjaga mereka- perhatian dengan pemeliharaan kepentingan/kemaslahatan negeri mereka. Para ulama dan orang yang berakal dari kita tidak akan membiarkan hal itu. Maka masing-masing dari lelaki dan wanita hendaknya tetap pada pekerjaan yang sesuai dan wajib atas dia agar tegak dengan hal itu kemaslahatan masyarakat. Kita tidak akan mempedulikan teriakan orang yang menginginkan untuk mem-barat-kan masyarakat tanpa memikirkan dan memperhatikan kemaslahatannya dan tanpa memperhatikan akibatnya, padahal pengangguran dari para lelaki itu banyak.
Aku memohon kepada Allah untuk memberi taufik semuanya kepada perkara yang di dalamnya ada kemaslahatan untuk Islam, kaum muslimin, warga dan negeri. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya.

Ditulis oleh Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafidzohullah
Anggota Haiah Kibar Ulama
1 Shafar 1433 H
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=125680

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.